Musim liburan datang bersamaan dengan berakhirnya masa studi di Hollandsch Inlandsche School (HIS). Pelabuhan Hertog Hendrik Pier di Ternate kembali riuh. Dermaga dipenuhi perahu-perahu kayu yang berjejer rapat, lambung menghitam digerus air laut dan usia. Bau asin laut menyatu dengan aroma kopi, kopra, cengkih, dan pala yang diturunkan dari palka-pinisi yang sedang dijemur. Sesekali tercium anyir ‘ikan garam’ menandai denyut kehidupan kota pelabuhan yang digerakkan oleh perdagangan, pelayaran, dan perjumpaan manusia dari berbagai penjuru Nusantara.
Di kota inilah Zainal Abidin menempuh pendidikan, menetap di fola fargol milik keluarga di lingkungan Kadato Tidore. Hari-hari dilalui di antara buku, ruang belajar, dan hiruk-pikuk pelabuhan yang tak pernah benar-benar sepi. Namun di balik kesibukan itu, ada waktu-waktu yang terasa melambat. Setiap senja, ketika aktivitas mulai surut dan laut memantulkan cahaya keemasan, pikiran kerap berlayar jauh meninggalkan kota ini, menuju kampung halaman di Soa-Sio, Tidore.
Kerinduan berdenyut pelan namun pasti. Kampung halaman hadir sebagai panggilan yang tak pernah putus, datang bersama angin dan ombak, mengingatkan bahwa perjalanan menuntut ilmu selalu menyimpan harga yang harus dibayar. Jarak memanjang, waktu menguji, dan hati belajar bersabar.
Suatu sore, langkah kaki mengarah ke Langar Ijo. Tempat itu kerap menjadi ruang untuk membantu seorang guru tua membaca dan menyalin berkas-berkas berbahasa Arab-Melayu. Di halaman madrasah, seorang perempuan tampak menjemur buku-buku di atas tikar pandan. Cahaya matahari jatuh dari samping, menyentuh wajah dengan lembut. Sorot mata perempuan tersebut seolah menyimpan cerita yang belum pernah terucap, cerita yang pelan-pelan menarik perhatian dan mengubah arah senja hari itu.
“Buku-buku itu habis kena hujan deras tadi pagi,” ujar perempuan itu tanpa menoleh, ketika menyadari ada tatapan yang memperhatikan.
Zainal tersenyum kecil.
“Sayang kalau dibiarkan lembap. Tulisan bisa rusak.”
Perempuan itu akhirnya memandang. Wajahnya teduh, kerudungnya sederhana, senyumnya tenang. Pada saat itu, waktu terasa berjalan lebih lambat.
“Namaku Salma,” ucapnya lembut.
“Dano Salma Alawiyah.”
“Zainal,” jawab Zainal. “Dari Tidore.”
“Iya, Soa-Sio” kata Salma sambil tersenyum tipis. “Berarti anak laut.”
“Laut mengajari banyak hal,” balas Zainal. “Termasuk membaca pancaroba, arah angin, dan cara pulang.”
Salma tertawa pelan.
“Dan apa yang dibaca anak laut di langgar Ijo, seperti ini?”
“Barangkali arah masa depan.”
Keduanya terdiam, lalu tersenyum.
Hari-hari berikutnya, Zainal sengaja datang lebih awal. Alasan resminya membantu guru tua, tetapi hati selalu berharap bertemu Salma. Perempuan itu datang selepas subuh, membersihkan madrasah, menyapu halaman, dan merapikan buku-buku tua.
Kadang percakapan berlangsung singkat. Kadang hanya saling menyapa. Namun setiap kata terasa seperti sebaris doa.
“Kenapa belajar begitu giat?” tanya Salma suatu sore saat merapikan rak buku.
“Supaya tidak tinggal dalam gelap. Supaya tidak mudah dibohongi,” jawab Zainal jujur.
Salma menunduk sambil memegang kitab tafsir tipis.
“Ilmu adalah cahaya. Tapi hati yang jujur lebih terang dari cahaya mana pun.”
Kata-kata itu mengetuk batin Zainal. Sejak saat itu, Salma hadir sebagai perempuan yang disukai, melainkan sebagai penjernih pandangan hidup.
Liburan tidak panjang. Oti Mahera, menuju Tidore telah dijadwalkan berlayar. Pada malam terakhir di Ternate, Zainal datang ke Langar Ijo. Salma sedang menutup jendela kayu.
“Besok kembali ke Tidore, meminta restu dan doa orang tua” ucap Zainal.
Ada getar di mata Salma.
“Ternate akan terasa sepi.”
“Aku akan melanjutkan sekolah Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) di Batavia,” lanjut Zainal. “Tidak tahu kapan kembali.”
Hening menyelimuti halaman.
Salma mendekat dan menyerahkan lenso putih bersulam halus.
“Hanya ini yang bisa kuberi. Doa ada di dalamnya.”
Zainal menerimanya seperti menerima amanah.
“Akan kusimpan. Sampai kembali.”
“Pergilah menuntut ilmu,” kata Salma lembut. “Orang yang mencintai ilmu tidak akan pernah sendirian.”
Saat Zainal melangkah pergi, suara Salma memecah keheningan.
“Kalau Allah menghendaki, jalan kita akan bertemu lagi.”
Fajar tiba, Oti Mahera menyingsing, bergerak meninggalkan Jematan Residen. Di atas perahu itu, lenso putih digenggam erat. Gelombang berkilau seperti serpihan kenangan.
Satu nama terpatri dalam ingatan:
Dano Salma Alawiyah.
Gadis yang memberi arti baru pada kata pulang dan pergi.
###
Satu purnama telah berlalu sejak langkah itu kembali menjejak tanah Soa–Sio, Tidore. Pada setiap sore, ketika matahari condong ke barat dan langit mulai berlapis warna tembaga, pandangan Zainal kerap tertahan di cakrawala. Laut membentang tenang, memantulkan cahaya senja yang perlahan memudar, seolah menyimpan jejak perjalanan yang belum selesai.
Dalam kilau cahaya itu, wajah Salma hadir tanpa suara. Bukan sebagai kenangan yang riuh, melainkan sebagai bayang halus yang menempel di setiap garis sinar. Janji belum sempat diucapkan, namun rindu telah lebih dulu bersemayam. Diam menjadi tempat menyimpannya, sementara waktu berjalan pelan, menunggu saat yang dikehendaki sejarah dan doa.
Suatu siang di doro kolano, sebuah Oti Mahera merapat. Seorang perempuan turun perlahan. Tudung tipis menutupi rambut. Di belakang, lelaki paruh baya memanggul borua kecil.
Zainal membeku.
“Salma…?”
Perempuan itu menoleh. Senyum muncul perlahan.
“Ternyata Allah mempertemukan lebih cepat.”
“Paman diangkat menjadi guru pangaji di Soa–Sio,” jelas Salma. “Keluarga mengizinkan karena Tidore bukan negeri asing, melainkan pulang ke tanah leluhur.”
Dunia Zainal terasa meluap.
“Ada banyak hal yang belum sempat terucap.”
“Kalau Allah izinkan, nanti,” jawab Salma pelan.
Mereka berjalan berdampingan. Anak-anak menyapa ramah. Angin gunung menggerakkan rumput. Tidore sore itu ikut tersenyum.
Beberapa bulan berlalu. Salma mengajar anak-anak mengaji. Kesabaran dan ketenangan membuat banyak orang tua kagum. Zainal membantu sebisanya, kadang hanya menunggu beberapa menit setelah kelas usai.
Cinta tumbuh pelan, tanpa banyak kata.
Suatu sore di bawah cahaya jingga Kie Matubu, Zainal memberanikan diri.
“Aku akan ke Batavia. Surat panggilan dari sekolah MULO tiba kemarin.”
Salma terdiam, lalu tersenyum.
“Pergilah. Ilmu adalah amanah.”
Zainal menelan napas.
“Salma, ngona ne dade ngori sodadi mansia laha-laha.”
“Kalimat itu berat,” ujar Salma lirih.
“Karena sejak bertemu, dunia terasa lebih terang,” jawab Zainal. “Setelah selesai belajar, aku ingin kembali melamar.”
Salma menatap dengan keteguhan.
“Kalau Jou Ta’Allah kehendaki, akan menunggu.”
Namun ada pesan terakhir:
“Titipkan janji pada doa. Doa lebih setia daripada manusia.”
Zainal mengangguk.
Hari itu, di atas Doro Kolano, doa melayang bersama angin dari gunung menuju laut.