Tara No Ate

Editor: Irfan Ahmad author photo
Gamalama, Moluccas (1750)

Sebelum terbentuknya kerajaan-kerajaan di Moloku (Maluku). Pulau Gape(i)  telah dihuni oleh empat kelompok sosial yakni Momole Tobona yang mendiami wilayah bagian selatan; Momole Toboleu yang mendiami wilayah bagian utara; Momole Tubo yang mendiami wilayah bagian barat; dan Momole Tabanga mendiami wilayah bagian timur. 

Momole Baiguna Tobona mempunyai peringkat utama dibandingkan ketiga momole. Dalam legenda pulau Gapi, Momole Tobona menempatkan diri sebagai penguasa di pulau Gapi dan mengalami kekacauan diantara kelompok sosial. Sehingga mendesak dilahirkan kesepakatan secara mufakat.  Musyawarah pulau Gapi pada 1257 di wilayah Toyo, keempat kelompok ini kemudian menata, membentuk pola masyarakat yang terstruktur di wilayah Toyo dan diberinama Foramadiahi (Rajilun, 1990). Secara etimologis Foramadiahi asal kata dari fowaro la madiahi, artinya “pengetahuan untuk memperbaiki”  sebagai ‘kesepakatan untuk menuju kebaikan (Rurai, S. B. 2019). 

Pertemuan tersebut merupakan awal mula persetujuan para momole untuk menegakkan wadah kekuasaan dengan pemimpin yang dinamakan kolano, diambil dari kata "Koko La Nao" artinya “tegak supaya kuat (Hasan, H. 2001). Setelah memilih kepemimpinan untuk pulau Gapi. Maka muncul kesepakatan untuk menerapkan satu konsep yang dinamakan Tara No Ate, artinya “turun kau pikat” ( Crab, P. van der. 1878). Maksudnya turun dari tempat yang tinggi ke dataran rendah atau dari Formadiahi ke Su(a)mpalo dan memikat para pendatang yang telah ramai mengunjungi pulau Gapi untuk melakukan transaksi cengkeh dengan masyarakat Maluku yang becerai-berai saat itu. Sementara kata “Sumpalo” berasal dari kata ”Sumfalo”. Sum artinya sumur dan Falo adalah mengambil. Mengambil air di sumur yang dangkal. Ini dibuktikan dengan keberadaan “sumur kunci” dan beberapa sumur yang dangkal di sekitar kota tua dengan kualitas air terbaik. Sumpalo kemudian berubah namanya menjadi Gamlamo (kampung besar) dimasa pemerintahan Sultan Baabullah dan berakhir dimasa memerintahnya Sultan Saidi, 1606 (Valentijn, F. 1724). 

Ranting cengkeh bersama buah yang telah matang (Sumber: Burnet, Ian, Spice Islands (National Library of Australia Cataloguing-in-Publication entry, 2011).

Semenjak pemukiman masyarakat difokuskan di pesisir-pantai, Sumpalo. Kata “Tara No Ate” bergeser pada sebutan “Taranate”. Ini terkait dengan tidak ada lagi kebijakan yang mengharuskan untuk memikat para pendatang. Semanatara sumber-sumber portugis, Spanyol dan Belanda menyebut “Taranata” untuk menujukan salah satu pulau penghasil rempah-rempah, cengkeh (Thomas, 1921).

Untuk mengetahui bagaimana perubahan identitas sebelumnya bernama Gape, menjadi Tarnate,  oleh Residen Ternate, XI—Van der Crab  dalam karyanya “Geschiedenis van Ternate, beschrijving van Ternataanse teksten over het Naidah”, memberi keterangan bahwa:
........Lepas dari itoe, lantas Moelij Toebona nama Guna larie di goenun dapat tatabuan, of gandang lantas ambil itoe bawa kabawa di roema, orang-orang datang lihat dija marah trous-trous bawah itoe kase sama radja Foramadihaij, orang dengar habar datang lihat, djadi tarada boeka lagi dija mara, djadie kase sama adeknja radja Tjitjoe. Lantas orang di negerij dimana-mana dengar habar datang lihat, lagi lantas dija bilang, orang banjak-banjak kalo ngoni maoew uni itoe ngoni tijada boleh pigie mester tinggal bikin rumah of lihat of nontong dikita poenja negeri, diorang samoewa mengako datang bikin roemah djadi nama Tarnate itoe baru radja Tjitjo” (Crab,1878).
Kutipan di atas memberi gambaran bahwa, negeri soa yang dimaksud adalah Sumpalo sebagai pusat pemerintahan awal yang berada di Foramadiahi dimana kolano (pemimpin) itu berada dan sebagai pusat kadato (kerajaan) yang pertama (Masinambow, l987). Valentijn (1724), menyebutnya Fala Majahi, hal yang sama juga disebutkan oleh Naidah (1878). Ia bahkan memberi petunjuk tentang terbentuknya kerajaan melalui pengabungan empat “negeri/soa” yang telah disebutkan sebelumnya yang belakangan wilayah sekitar disebut sebagai Soa-Sio, yang awalnya terdapat di Foramadiahi (Fraassen, Ch. F. van. 1987). 

Kota Sumpalo (Kota Tua Ternate) dan Istana Sultan Baabullah di Gamlamo (G). Sumber: Karl Nesseler, Translated from original German. Documenting the East Indian Journey led by Admiral Jacob Cornelius van Neck (1598), featuring Depictions of: Mauritius, Tuban, Banda, Ternate, Molluccas, Banda, and Gammalamme. Description compiled by Erik Brockett who is pleased to provide additional information relating to this or other examples of the work of Johann Theodor de Bry available at Arader Galleries).

Tidak ada kejelasan secara harfiah penggunaan atau pengucapan Taranate bergeser pada ucapan Ternate. Namaun pengunaan kata Ternate ditemukan dalam laporan-laporan Pemerintah Kolonial Belanda (Lihat, Memorie van Overgave, 1890-1990; Kolonial Verslag,1850-1930; Netherlands Indie Verslag Statistich,1931-1941; Indishe Gids,1910-1930; Netherlands Indie Verslag Teks, 1931-1939)

Awalnya nama Ternate dihubungkan dengan letak Pulau Ternate itu sendiri. Dalam buku karangan de F. S. A Clercq  (1890) "Bijdragen tot de kennis der Residentie Ternate", nama Ternate diidentifikasi sebagai: (1) nama  sebuah  Karesidenan;  (2)  nama  sebuah  ibukota;  (3)  nama  sebuah Kesultanan;  dan  (4)  nama  salah  satu  pulau (kie).  Dari  empat  penandaan  ini,  dua nama yang disebut pertama berasal dari model Pemerintahan Eropa karena hampir semua  sumber  Eropa  memberi  identitas  yang  sama.  Penamaan  ini  muncul  pada saat  pembagian  wilayah  administrasi  Hindia  Belanda  setelah  runtuhnya  VOC pada tahun 1799.

Nama yang disebut terakhir (kie), berdasarkan sudut pandang masyarakat lokal yang  menunjukkan  kedudukan  kesultanan yang berada di Kie Gapi, Doku, Tuanane, Besi. Jauh  sebelum  kehadiran bangsa  Eropa yang  sering terungkap  dalam  jaringan  perdagangan  antar pulau  yang  dilakukan  oleh masyarakat lokal dengan sebutan “Maluku Empat Pulau/Kerajaan”. Oleh Naidah (1878: 402), Ia menulis: “Maluku kie raha ma-asal rimoi bato, ma-kabasaran se ma istiadat rimoi bato” yang artinya, empat gunung Maluku yang memiliki asal mula, memiliki kebudayaan dan negaranya sendiri (Fraassen, Ch. F. van. 1987). Ha ini terpekuat dengan sejarawan Maritim, Adrian B. Lapian (1994) Awalnya pusat Maluku  mengacu  pada  identitas  kerajaan-kerajaan tradisional yang biasa disebut dengan Maloko Kie Reha .

Sementara  penyebutan  Ternate  dikemukanan oleh Leonard Y. Andaya (1992) bahwa Ternate  sendiri  selalu  identik  dengan kekuasaan  kesultanan  sekitar  abad  XVII  atau  salah  satu  provinsi  dari Gouvernement  Molukken. Berdasarkan  status  politik  dari  sudut  pandang  Eropa, pada  awalnya  wilayah  ini  merupakan  suatu  pemerintahan  atau  gouvernement  di bawah  kekuasaan Portugis, kemudian dilanjutkan pada periode VOC  dan  Hindia Belanda (Lapian, A.B. 1980). Dalam Pemerintahan Hindia landa  setiap  karesidenan tersebut bertanggung jawab langsung kepada Gubernur Jenderal di Batavia.  Keputusan ini mulai  berlaku  pada  tanggal  10  Desember  1866.  Adapun  wilayah  Karesidenan Ternate  pada  waktu  itu  meliputi  Ternate,  Tidore,  dan  Bacan,  dengan  daerah taklukan yang luas antara Pulau Halmahera,  Rau,  Morotai  di utara dan Kepulauan Sula di selatan dan Kepulauan Papua (Waigeu, Salawati dan Misol adalah wilayah taklukan Kesultanan Tidore) serta beberapa distrik seperti Batanta dan Mandonoyang  letaknya  di  pantai  timur  Sulawesi,  bagian  selatan  Tanjung  Valsch  atau Taliabu sebagai taklukan Ternate (Clercq F. S. A, de. 1890).

Setelah  terbentuknya  Karesidenan  Ternate  pada  1866  sebagai  daerah otonom, maka terbentuk pula aparatur pemerintahan di tingkat daerah  Afdeeling. Ada pun Afdeeling yang dapat disebutkan di sini adalah Afdeling Ternate dibawa pemerintahan langsung Residen;  Afdeling  Halmahera bagian utara yang berpusat di  Tobelo;  Afdeling  Halmahera bagian timur-selatan pusatnya di Patani;  Afdeling Kepulauan Sula pusatnya di Patani; Afdeling Banggai berpusat di Kitang-Banggai; Afdeling  Papua bagian utara berpuat di Manokowari; dan Afdeling  Papua bagian barat-selatan berpusat di Kepulauan Raja Ampat (Hasyim, H. 2006).

Hingga saat ini pengunaan (tulisan dan ucapan) Tara No Ate  maupun Taranate tidak lagi terdengar. Kalaupun ada yang menyebut, pendengar pasti bertanya-tanya tentang kata tersebut. Karena kata Ternate lebih mendominasi untuk menunjukan sebuah kerajaan, pulau, kota, dan admnistrasi kenegaraan. 







Share:
Komentar

Terkini